Rekayasa Cuaca Berhasil Kurangi Hotspot Penyebab Karhutla Danau Toba
- Herlambang Ichtiarto
- 30 Jul, 2025
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Silangit bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) telah melakukan rekayasa cuaca di wilayah Kaldera Toba sejak Sabtu, (26/7/2025). Rekayasa cuaca ini telah berhasil mengurangi hotspot penyebab kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) wilayah sekitar Danau Toba.
“Hasil sementara selama empat hari
penaburan NaCl, ada sebagian wilayah sudah mengalami hujan dengan kategori
ringan. Artinya ini bisa mengurangi titik-titik hotspot di wilayah itu. Titik
yang sudah kami catat adalah sebagian wilayah Simalungun, Toba, Doloksanggul
dan sebagian wilayah Tarutung.” Ungkap Kepala Stasiun Meterologi kelas II
Silangit, Gatot Rudiantoro dalam wawancara dengan Del FM, Rabu (30/7/2025)
Hotspot
merupakan titik panas yang timbul akibat keringnya
cuaca suatu daerah, yang berperan besar dalam karhutla di kawasan Danau Toba.
Menurut catatan Gatot, wilayah seperti Sianjur Mula Mula memiliki titik panas
dengan suhu yang sangat tinggi, yang menyebabkan kebakaran terjadi di wilayah
tersebut.
Gatot mengungkapkan, rekayasa cuaca lewat
penaburan garam ke awan ini bakal berlangsung sampai Minggu, (3/8/2025). Ia
mengatakan BMKG Silangit telah menabur sebanyak 6 – 7 ton garam di wilayah
Kaldera Toba.
Awalnya mereka berencana merekayasa cuaca
lewat penaburan NaCl ke awan selama tiga kali dalam sehari. Tetapi dalam
pelaksanaannya, penaburan garam hanya dapat dilakukan dua kali per hari.
“Ini karena sebelum menabur NaCl atau garam,
kita harus melihat kondisi awannya dulu. Bila awannya memenuhi standar scientist kita, baru kita bisa tebar
garamnya.” Ujar Gatot
Selama penaburan NACl, Gatot mengaku menemui
beberapa kendala. Ia mengatakan bahwa awan yang mampu berpotensi menurunkan
hujan setelah disebarkan garam hanyalah satu jenis awan, yaitu awan
Cumulonimbus.
“Awan Cumulonimbus atau CB adalah awan yang
berpotensi besar bisa membentuk hujan. Sementara ini di wilayah Kaldera Danau
Toba, awan CBnya masih terpencar jauh atau tidak berkumpul. Kondisi ini
menyulitkan kita untuk menebar garam.” Lanjut Gatot
Ia mengaku, bahwa awan hujan belum mampu
diturunkan di semua wilayah dengan tingkat hotspot
yang tinggi.
“Mudah mudahan, selama pengamatan ini, ada
awan yang kita sebar, yang sampai ke daerah daerah hotspot itu” Harap Gatot.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
